• PPDB 2015

  • Asrama

  • Event PPDB

  • Kegiatan Adiwiyata
 

Berita Update

Feature Broadcasting MAN Yogyakarta II

Sejumlah 44 siswa MAN Yogyakarta II yang tergabung dalam Pengembangan Diri Broadcasting Pertelevisian memproduksi karya berupa feature di  4 lokasi berbeda pada  Kamis (10/3) dan Selasa (15/3). Dibagi dalam 4 kelompok dengan lokasi yang berbeda yaitu di Benteng Vredeburg, kawasan Tugu hingga Titik Nol Kilometer, Alun-alun Kidul dan Makam Raja di daerah Kota Gede Yogyakarta.

Berangkat dari MAN Yogyakarta II  pada 07.30 WIB masing-masing kelompok didampingi seorang pembimbing. Agung Putra M salah seorang pembimbing mengatakan bahwa feature ini dilaksanakan untuk mempraktikkan teori broadcasting yang diperoleh selama ini. Seperti  bagaimana mengoperasikan kamera, kerjasama tim, akting hingga tugas kru. “Semua diatur dalam SOP dan siswa harus menguasai itu,” tegas Agung.

 

Penanggungjawab lapangan Jumiyasrini SPd menambahkan bahwa kegiatan ini sekaligus untuk penilaian siswa broadcasting pertelevisian di semester genap tahun pelajaran 2015-2016 sekaligus mencoba peralatan baru studio broadcasting. Salah satu peserta Adima Rahma Pinasti dari kelas XI Bahasa mengungkapkan kegembiraannya karena dapat menerapkan ilmu yang diperolehnya selama ini. “Tidak melulu teori saja tapi langsung beraksi,” tambah Adima. Lain halnya dengan Burhan Yuswantyo, siswa kelas XI IPS2 yang diberi tugas untuk mengoperasikan kamera camcoder. “Awalnya grogi tapi lama-lama asyik juga” kata Burhan.

 

Cerita Bergambar "Kamishibai" di MAN Yogyakarta II

Tahun 2004 Aceh diguncang gempa dan tsunami,  lalu Yogyakarta pada 2006 diterpa  gempa hebat yang banyak menelan korban jiwa dan harta. Hal inilah yang mendorong  Yoko Takafuji MBA untuk memperkenalkan kisah dan pengetahuan terkait gempa dan tsunami  pada siswa jurusan Bahasa MAN Yogyakarta II dalam bentuk Kamishibai pada Senin (14/3). Usai diterima Kepala MAN Yogyakarta II In Amullah MA peneliti dari Rikkyo University Jepang ini bergegas menuju ke aula lantai 3.

Kamishibai atau cerita bergambar yang disampaikan oleh Yoko Takafuji berjudul “Smong” . Smong yang berasal dari bahasa Simeulue Aceh berarti tsunami. Smong  berkisah tentang cerita turun temurun masyarakat  Aceh tentang  tindakan yang harus dilakukan ketika gempa terjadi  seperti keluar dari bangunan, bersegera menuju tempat tinggi (bukit, pegunungan), lindungi kepala dengan alat seperti tas atau berlindung dibawah meja kokoh serta tetap tenang. Yoko juga berpesan untuk menghindari benda-benda yang bergantung dan lapuk. “Tetap waspada dan berdoa untuk keselamatan,” tambah Yoko.

 

Usai penyampaian dari Yoko Takafuji diadakan tanya jawab. Aldan dari XI Bahasa mengutarakan ketertarikan dengan penyampaian Kamishibai tersebut. “Tidak bikin ngantuk dan seakan-akan dibawa ke kejadian” ujarnya. Acara yang diikuti 55 siswa dengan didampingi Diah wijiastuti SS pengampu bahasa Jepang dan wakamad Kurikulum Evi Effrisanti STP ini  berlangsung sukses dengan diakhiri sholat Dhuhur berjamaah.

Pasukan Khusus MAN Yogyakarta II Beraksi di Balai Kota Yogyakarta , Ahad (13/3)